Waktu, Tenaga Habis, Pikiran Penuh. Urusan Anak? | Happinest Parenting
Tim RBeBe - 06 August 2024
"Pusing gue, kerjaan banyak, lelah fisik, lelah pikiran, di rumah juga banyak kerjaan, gue juga perlu istirahat, uang terbatas sekali, ga bisa sewa tenaga bantu dan lain-lain, anak ga ke kontrol, haduh gimana dong . ."
Banyak pelatihan dan pembelajaran mengenai pola asuh atau parenting, namun tidak banyak dibahas, bagaimana menyikapi terbatasnya sumber daya orangtua, yang berupa waktu, tenaga, pikiran sampai hal keuangan.
Manajemen kehidupan harian orangtua perlu dioptimalkan. Karena waktu bekerja, mengurus rumah tangga, mengurus dirinya, beristirahat, "healing" dan lain sebagainya. Sebanyak apapun ilmu parenting yang orangtua miliki, bila orangtua tidak cerdas dan bijak mengatur waktu, mengalokasikan tenaga dan pikiran serta sumber daya lainnya dalam penerapan pola asuh, maka ilmu itu cenderung tidak (banyak) bermanfaat.
Pondasi
Bangun KESADARAN (untuk membangun ketenangan dan kedamaian), seperti:
-
Manusia penuh keterbatasan: waktu, tenaga, pikiran, sumber daya (termasuk keuangan)
-
Tuhan Maha Kuasa dan Maha Tahu, Maha Kasih dan Maha Perancang
-
Semua kesusahan tujuannya untuk kebaikan manusia itu sendiri
-
Manusia hanya menjalankan peran dan menjadi manusia sebaik-baiknya, apapun bisa terjadi setelah usaha itu dilakukan, ikhlaskan
-
Anak-seperti juga manusia lain- punya kecenderungan yang perlu dipahami dan diwaspadai, klik Memahami Anak (rbebe.id).
Pertama
Tenangkan diri, carilah makna dan tujuan baik., upayakan ada rasa damai (berdamai dengan diri sendiri). Menarik nafas dan hembuskan perlahan akan membantu.
Saat dalam kondisi genting, emosional, lelah, secepatnya lakukan relaksasi dan tenangkan diri* secepatnya, lakukan afirmasi pikiran positif yang menenangkan dan menguatkan, contoh: saya tenang, semua baik, kesusahan ini tantangan baik, hidup luar biasa (bagi yang beragama bisa mengucapkan doa atau firman tertentu).*Bila perlu dan memungkinkan, jauhi anak sementara waktu, agar lebih mudah menenangkan diri |
Perkuat mental dan pola pikir positif. Ini bisa dicapai melalui spiritualitas dan keimanan. Lakukan ibadah secara bermakna dan resapi manfaatnya bagi pikiran dan jiwa*. Setelah berdoa dan berusaha, seseorang perlu mengikhlaskan dan mempercayakan kepada Yang Maha Tahu, Maha Kuasa dan Maha Pengasih. Ia perlu sadar, manusia berusaha, Tuhan menentukan hasilnya.
*Waspadai rutinitas ritual ibadah yang dapat membuat bosan, "biasa saja" sehingga menghilangkan makna dan rasa yang baik.
Klik Logika & Integritas Iman Anda, Selaras atau Melenceng?
KeduaMulai melangkah, berusaha lakukan apa yang baik dan tepat, fokus dengan apa yang mungkin dilakukan, bukan disibukkan dengan memikirkan hasilnya.Orangtua hanya perlu menjalankan peran dan tanggungjawabnya sebaik-baiknya (menjadi manusia sebaik-baiknya dengan terus mengevaluasi dan membangun dirinya), termasuk peran sebagai orangtua. |
Niat dan aksi untuk berjuang mendidik anak dengan baik. Niat itu akan timbul bila pola pikir/mindset orangtua menganggap pola asuh adalah suatu tugas dan tanggungjawab sesuai peran orangtua (bagi orang yang beragama, menganggap anak adalah titipan Tuhan yang perlu di jaga tumbuh kembangkan dengan baik). |
Yang paling mungkin orangtua ubah dan bangun adalah dirinya sendiri, bukan anaknya. Tentu orangtua perlu berusaha menjalankan peran, tanggungjawabnya sebaik-baiknya namun perlu disertai dengan keikhlasan. Dengan bekal pemahaman itu maka orangtua tidak terintimidasi dengan keinginannya dan bisa menjaga ketenangan dan kedamaian hatinya untuk mulai mendidik anak.
Ketiga
Perlebar jangkauan, perbanyak dukungan:
-
Kompaklah dengan pasangan: bicarakan dan diskusi dengan pembagian tanggungjawab dan rencana kegiatan dalam pengasuhan, lakukan dan terus evaluasi. Bila tidak ada pasangan (karena satu atau lain hal) bisa diganti mitra pendukung orang sekitar (lihat poin 4 dibawah).
-
Manfaakan alat bantu (klik) Komunikasih (bisa menggunakan teknologi): dengan pasangan atau anak, bisa memantau dan bertelfon atau panggilan video di waktu tertentu. Gunakan teknologi yang bisa dimanfaatkan (bisa berupa aplikasi, media sosial, cctv dan lainnya). Jadilah sahabat bagi anak.
-
Gunakan cara-cara kreatif dalam mendidik anak, cari informasi kegiatan positif seperti (klik) Co Learning Space RBeBe.
-
Cari dukungan yang ada dilingkungan hidup anak, yang bisa membantu memantau dan mendampingi anak, (guru, nenek-kakek, asisten rumah tangga atau lainnya): perlu diperhatikan untuk mewaspadai orang-orang yang kurang atau tidak kompeten dalam parenting (contohnya seperti kakek-nenek yang bisa memanjakan anak).
-
Jadikan anak sebagai mitra. Dalam waktu luang libatkan dan perbanyak interaksi dengan anak: mendengar, berdiskusi, bercerita. Dalam kegiatan apapun yang memungkinkan anak hadir dan terlibat, lakukan interaksi berkualitas, contohnya: saat menghadiri resepsi pernikahan, alih-alih anak ditinggal dan orangtua asik mengobrol dengan orang lain, lakukan obrolan dan interaksi dengan anak
Penutup
Cek ricek. Apakah bagian "Pondasi & Pertama" (lihat penjelasan diatas) telah berjalan baik? periksa sekali lagi apakah hati pikiran sudah tenang? Terus berusaha lalu Ikhlas & Percaya pada pada Tuhan? Agar hati dan pikiran tetap tenang, damai dan semangat.
Klik Yakin Tuhan Itu Ada? (bila seseorang tidak percaya keberadaan Tuhan, maka ia perlu mencari bentuk dan konsep lain untuk membangun tenang, damai dan semangat. Kiranya bermanfaat. Terus semangat.
Klik Susunan Materi Parenting (rbebe.id)
(Artikel Ini Kerjasama RBeBe Dengan Program Happinest Parenting)
Masukan dan saran mohon sampaikan kepada kami, terimakasih
Mari bantu (klik) Wujudkan 100 Materi Belajar Bagi Masyarakat.


