Parenting, Tantangan dan Kenyataan Mirisnya | Happinest Parenting
Tim RBeBe - 25 July 2023
Klik Pengasuhan Anak @Wikipedia yang menjelaskan arti, konsep, jenis, faktor dan lainnya dari pola asuh atau parenting. Walau demikian parenting sendiri bisa diartikan bersikap dan bertingkah laku menjadi induk, ayah atau ibu (yang baik).
Parenting Miris |
Berikut beberapa contoh kejadian nyata:
-
Seorang bocil kelas 5 SD sedang wira-wiri di lapangan mengendarai sepeda motor dewasa di suatu lapangan pinggiran Jakarta. Terlihat ibu, bapak dan adik dari sang bocil, ternyata mereka khusus hadir untuk mengajari bocah SD itu mengendarai motor.
-
Di suatu rumah ibadah, seorang anak berusia sekitar 4 tahun, asik bermain games di HP dengan kotak makanan berisi berbagai snack dan minuman di dekatnya, sementara bapak-ibunya sedang mengikuti prosesi ibadah di samping kiri dan kanannya.
-
Seorang ibu hamil yang berbelanja bersama kedua anaknya, salah satunya sudah bersekolah tingkat SD. Saat ibu hamil itu memegang tas belanjaan, ia tak meminta anaknya (yang tidak memegang apapun) untuk membantunya, bahkan usulan orang agar anaknya membawa tas tersebut tidak dihiraukannya.
-
Seorang ibu mengerjakan tugas sekolah anak, agar bisa tepat waktu atau mendapat nilai dan hasil pekerjaan yang baik.
-
Sepasang suami istri membiarkan saja anak-anaknya ribut, berlarian di suatu tempat yang membutuhkan ketenangan.
Demikian juga sikap orangtua lainnya seperti:
-
Tampak membiarkan anak yang bersikap egois, tidak berbagi, membuang sampah sembarangan dan hal-hal sejenis lainnya dan tidak berbuat sesuatu yang serius untuk mendidiknya.
-
Tidak tega bila anaknya menjadi susah, capek, repot. Mereka berusaha memberikan fasilitas atau perlakuan agar anaknya merasa nyaman dan tercukupi.
-
Mudah menuruti permintaan anak karena alasan yang berbeda-beda, seperti tidak mau repot, tidak mau anaknya rewel, tidak tega dan seterusnya.
-
Tidak cukup dewasa, sehingga seringkali emosional dan bersikap buruk.
-
Jarang berdiskusi, menanyakan kabar dan bercerita ke anak.
Pendidikan Karakter Tidak (Terlalu) Penting? |
Apa yang banyak terjadi pada banyak anak usia dini di Indonesia? Pelajaran baca, tulis, hitung dan hapalan diterapkan di usia emas anak, sehingga penerapan pendidikan karakter, pembangunan sosial emosi positif serta belajar dari kegiatan bermain yang ceria tidak diberikan cukup waktu. Klik Potensi Bahaya Baca Tulis Pada Anak.
Usia emas adalah pondasi dan akar yang sangat vital sebagai pembentuk manusia. Di usia emas kebutuhan edukasi bagi anak adalah penanaman nilai-nilai baik, etika, dasar pola pikir, kecerdasan emosi atau merangsang 9 kecerdasan majemuk (menurut Howard Gardner) secara seimbang yang dikemas dengan sesuatu yang menyenangkan dan menggembirakan. Dalam pendidikan di sekolah lanjutan, nilai-nilai pelajaran seringkali ditempatkan lebih utama daripada nilai, karakter dan tanggungjawab anak.
Beberapa kenyataan yang banyak dijumpai:
-
Orangtua tidak memberikan teladan baik dari ucapan dan perilakunya sehari-hari.
-
Pernikahan orangtua tidak harmonis, sehingga tidak kompak dalam mendidik anak.
-
Banyak orangtua tidak menganggap mendidik anak sebagai tujuan utama orangtua, sehingga pekerjaan lebih diutamakan yang dianggap memberi nafkah, membiayai sekolah anak atau faktor prestis dan ego.
-
Kesenangan orangtua (seperti bersosialita, arisan, berkomunitas, bermedia sosial, melakukan hobi sampai bermain game) menjadi lebih penting dari meluangkan waktu dan pikiran untuk mendidik anak dan menghabiskan waktu berkualitas dengan anak.
-
Banyak orangtua tak berdaya untuk menerapkan parenting yang baik walau ada keinginan. Hal ini biasa terjadi di keluarga kurang mampu (secara ekonomi) atau orangtua yang super sibuk.
* Contoh beberapa kasus sehari-hari: dulu orang Indonesia hanya punya pilihan menonton satu saluran TVRI saja, saat ini puluhan bahkan ratusan saluran TV dengan adanya TV cable, ditambah Youtube, Netflix dan lainnya akan menguras waktu. Kalau dulu pilihan makanan minuman cukup terbatas, saat ini pilihan menu nya sangat banyak, berfariasi dan berlomba menyajikan kenikmatan. Media sosial dan arus informasi yang sedemikian deras membuat orang semakin sibuk. HP yang dulu hanya untuk menelfon dan berkirim pesan teks, sekarang semakin multifungsi, menggiring banyak orang berfokus padanya. Itulah gaya hidup saat ini. Saat semua semakin sibuk dan padat maka (tanpa sadar) anak tidak terdampingi dengan baik. |
Apa Yang Bisa Dilakukan? |
-
Membangun kesadaran. Mana yang baik, mana yang buruk, apa yang perlu dibangun, dikurangi dan dievaluasi.
-
Untuk tujuan baik dan mendidik, orangtua perlu membiarkan anaknya susah, repot dan lelah (dalam batas yang wajar) dimana anak dilatih untuk berjuang, menyelesaikan, mencari solusi dan bertanggungjawab.
-
Membangun kerendah-hatian. Memandang segala hal dalam kacamata yang positif, mengutamakan pada pembangunan diri (klik Pondasi Pola Asuh) yang akan dampak positifnya akan memancar luas, termasuk pada anak.
-
Membangun semangat berjuang dan berkorban. Sikap cinta kasih sejati yang adalah suatu pengorbanan untuk memberi dampak baik dan positif.
-
Membangun komunikasih yang baik dengan anak.
Perlu motivasi, niat dan usaha besar agar orangtua mampu membangun anak untuk mendapatkan haknya mendapatkan pola asuh yang baik dari orangtuanya, agar kelak ia menjadi Generasi yang Aktif Unggul & Luhur (GAUL). Tetap semangat, semoga bermanfaat.
Klik Susunan Materi Parenting (rbebe.id)
(Artikel Ini Kerjasama RBeBe Dengan Program Happinest Parenting)
Masukan dan saran mohon sampaikan kepada kami, terimakasih
Mari bantu (klik) Wujudkan 100 Materi Belajar Bagi Masyarakat.


