Senang Secukupnya, Bahagia Sepenuhnya | BFA
Tim RBeBe - 25 September 2022
Gue jadi ingat tulisan Albert Einstein tentang kebahagiaan.
Yang dia tulis ini ya, "Hidup damai dan sederhana jauh lebih membahagiakan daripada mengejar kesuksesan berbalut kegelisahan terus-menerus" (Albert Einstein,1922).
Klik Video Albert Einstein dan teori kebahagiaan (CUKUP TAU).
Iya ya, tenang dan sederhana bikin bahagia.
Iya, sederhana yang terpancar dari gaya hidup, berawal dari pola pikir. Orang-orang kebanyakan kan pikirannya sukses itu ya secara finansial, kekayaan, prestasi, jabatan dan popularitas.
Tapi ujung-ujungnya kan orang ingin bahagia kan ya?
Iya seharusnya. Sukses untuk bahagia, walau ada yang bilang bahagia untuk sukses. Lu tahu ga penelitiannya Universitas Harvard tentang kebahagiaan yang memakan waktu sampai 75 tahun ?
Lama amat, gimana tuh?
Iya seharusnya penelitian ini jadi arah kuat kebahagiaan. Yang ngerjain aja sekelas Universitas Harvard, klik video Penelitian Terlama Kebahagiaan | Robert Waldinger (Ted)*.
*Penelitian yang serius terhadap kehidupan 724 orang yang dimulai sejak tahun 1938. Penelitian berlangsung puluhan tahun, direktur penelitiannya-pun terus berganti, bahkan obyek penelitiannya banyak yang meninggal karena usia dan sebab lain.
Gile bener, segitunya niatnya ya.
Bisa jadi. Dijelaskan bahwa koneksi sosial itu sangat diperlukan, karena kesepian itu sangat buruk. Pesan yang kuat dari hasil penelitian adalah "hubungan baik dan berkualitas akan membuat seseorang lebih bahagia dan lebih sehat".
Kalau ga punya pasangan?
Istri atau suami maksudnya? Hubungan kan luas, dengan Pencipta, dengan anak, dengan teman, tetangga, komunitas.
Bagaimana kalau banyak teman tapi miskin, menderita dong.
Sebetulnya dalam banyak kasus, ga perlu sampai menderita.
Kenapa?
Menderita itu seringkali karena kita tidak ikhlas, tidak menerima. Jadi kemungkinan itu kondisi susah, seperti ga punya uang, gagal, beban kerja berat, atau kondisi sakit-seperti kena sakit berat, kanker, stroke-, atau sakit hati-seperti dibohongi, direndahkan, dikhianati- dan seterusnya. Nah orang yang belum bisa menerima atau ga ikhlas dengan kondisinya, ya jadinya merasa menderita.
Tapi kalau susaaah banget, sakiiiit banget, pediiih banget, gimana tuh?
Memang ada kondisi dimana penderitaan sulit sekali dihindari, tapi dengan menerima dan ikhlas-contohnya memaknai bahwa semua ada tujuan baiknya, terus ada harapan dan bersemangat move on-, tentu akan membuat lebih ringan ya.
Ya tapi susah juga, kalau diposisi itu.
Sudah hidup berat, ditambah pikiran berat, rugi amat. Apapun kenyataan yang ada, tantangannya adalah bagaimana membuat hidup terasa lebih ringan, pikiran lebih tenang, hati lebih damai, yang merasakan kan kita juga.
Biar hidup seringan kapas yang terbawa semilir angin, tenang seperti hening malam disinari bintang, damai seperti senja turun di tepi lembah kehijauan yang syahdu.
Assoii, bisa puitis juga lu ha ha.
Iya nih pingin hidup bisa indah seperti itu.
Sama kita. Mari lihat video ini (klik), Bahagia Menurut Tony Robbins. Biar lebih mantap dan bersemangat.
PENJELASAN |
Kesenangan
-
Suatu rasa (tunggal atau jamak).
-
Ada yang langsung ke tubuh, ditangkap indra sensori (makanan, udara), ada yang menyentuh ego pikiran (pujian orang, kebanggaan, bisa karena barang yang berharga, menakjubkan atau mewah yang membuat orang lain kagum sehingga menjadi kebanggaan diri, suatu kelebihan dan seterusnya).
Benang Merah Antara Kebahagiaan Einstein & Harvard
Einstein menekankan pada ketenangan dan kesederhanaan, sementara Harvard menekankan pada hubungan baik yang berkualitas. Dalam pemahaman Best Feeling Achievement/BFA baik Einstein maupun Harvard terdapat adanya makna dan nilai kehidupan yang berharga yang dijalani sehingga mendatangkan perasaan bahagia di hati.
Happinest Dalam Best Feeling Achievement/BFA
Anda perlu membaca (klik) Karena Rasa Adalah Segalanya dan (klik) Pleasure Awareness sebelum membaca tulisan ini lebih lanjut. Ingatlah bahwa senang berbeda dengan bahagia. Senang itu lebih mudah dirasakan, lebih spontan, sementara bahagia akan dijelaskan dalam tulisan dibawah ini.
Dalam kurva kesenangan dan kebahagiaan (teori BFA), sejak manusia terlahir dari bayi, sudah dipenuhi oleh keinginan akan kesenangan, saat terwujud ia akan merasa senang, lalu ia mulai merasakan rasa lain yang kadang-kadang muncul tapi belum bisa dipahami dengan baik, yaitu kebahagiaan. Seiring proses hidupnya, ia akan memaknai dan memahami makna, nilai kehidupan, kebaikan, kehangatan hati dan cinta kasih. Perlahan, seharusnya ia mulai memahami dan lebih terampil mewujudkan rasa bahagia itu.
Selaras dengan narasi Einstein dan penelitian Harvard, konsep BFA melihat kebahagiaan (dengan penulisan "Happinest") adalah memunculkan makna dan nilai kehidupan yang berharga.
Saat manusia sudah terbiasa berpikir kongkret, prosesnya seperti ini:1. Mempunyai kesadaran dan pemahaman baik akan kehidupan, makna dan nilai positif seperti bersyukur dengan kesadaran penuh.2. Timbul arah dan tujuan baik: seperti saat berbuat cinta kasih, beribadah dst.3. Merasa berharga : bahwa kehidupan-termasuk diri-, adalah berharga (ini berbeda dengan paket "harga diri + ego diri" yang menuntut).4. Merasa damai dan tenang : rasa damai secara penuh berarti tidak ada emosi negatif, sementara rasa tenang (bagian dari damai) secara penuh itu berarti tidak terburu-buru atau tergesa serta tidak ada khawatir.Perpaduan semua itu bisa dikatakan adalah rasa bahagia. |
Karakter Kebahagiaan
-
Suatu perasaan (bukan hanya rasa), holistik, bukan parsial
-
Hasil olah pikir dan rasa yang mandiri, terlepas dari apapun situasi dan kondisi yang ada
-
Ada makna, nilai dan tujuan baik yang dipahami sehingga munculnya perasaan berharga
-
Suatu kedewasaan dan kebijaksanaan berpikir dan merasa
-
Tidak dibatasi oleh kesusahan dan kesakitan (walau susah dan sakit bisa tetap bahagia)
-
Penegak kebaikan, kebenaran dan keadilan
-
Tidak menuntut namun memahami, menghargai
-
Mencukupkan (bila ada yang dirasa kurang)
-
Selaras dengan kesederhanaan
-
Menyentuh/ranah hati, area spiritualitas
-
Ikhlas dan mempunyai harapan yang luas
-
Bersikap cinta kasih yaitu memberi kebaikan, karena merasa “ada” bahkan berkelimpahan untuk dibagikan.
Situasi & Kondisi Seperti Apa Berbahagia?
-
Saat bisa memaknai dengan baik apa yang terjadi, yang dirasakan, kehidupan secara luas
-
Saat melakukan cinta kasih, memberi kebaikan, pengorbanan (kepada kehidupan: seperti diri, sesama, makhluk lain, semesta).
-
Saat berinteraksi, berkomunikasih, berelasi intim dengan pasangan, keluarga, teman, sang Pencipta, merasakan Nya, beribadah.
-
Saat bisa bersyukur secara tulus.
Beberapa Narasi Kebahagiaan
-
Puncak dari kesuksesan adalah kebahagiaan.
-
Kita tidak dapat memberikan kebahagiaan kepada orang lain, karena bahagia itu keputusan pribadi, namun kita dapat memicu dan memudahkan rasa itu muncul pada orang lain.
-
Tidak ada yang mengharuskan kita untuk bahagia, namun kita seharusnya bahagia.
-
Dalam kondisi gelap dan kelam, bahagia tampak sebagai cahaya kecil yang begitu kuat. Dalam kondisi badai, bahagia hadir sebagai pegangan yang kokoh. Dalam letih, sakit ataupun pedih, bahagia hadir dalam sandaran yang hangat.
-
Walau kebahagiaan itu murah, bahkan tidak ada harga (karena semua bisa merasakan), namun kebahagiaanlah yang paling bernilai.
-
Senanglah secukupnya namun bahagialah sepenuhnya.
Bagaimana World Happiness Report? Kota di Indonesia Yang Penduduknya Paling Bahagia? Posisi Cinta dan Syukur? Bahagia Ikigai? Dopamin, Sang Hormon Kebahagiaan? Semua akan disusun di Ruang Belajar Bahagia. |
Kiranya bermanfaat. Terus semangat.
>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
(Tulisan ini kerjasama RBeBe dengan program Best Feeling Achievement)
- Anda Bisa lanjutkan membaca artikel Pisahkan Senang & Bahagia Dengan Jelas
- Mari bantu (klik) Wujudkan 100 Materi Belajar Bagi Masyarakat.
- Masukan dan saran mohon sampaikan kepada kami. Terimakasih





