Mencintai Kehidupan, Merindukan Kematian | BFA

Tim RBeBe - 19 October 2022

Syair dari lagu diatas: Ku terlahir untuk kembali | Hidup sungguhlah sebuah perjalanan yang harus kita jalani | Membawa kisah dan cerita manusia | Bila saatnya tiba untuk kembali | Direngkuhan Illahi | Tinggalkan dunia yang fana ini | Kutatap indahMu CINTA nan tulus | Aku kembali asal, kembali padaMu..

Artikel ini membangun pola pikir dan sikap yang memandang kematian sebagai siklus kehidupan yang dirancang oleh Sang Pemilik Kehidupan Yang Maha Pengasih. Ia merancang segala sesuatu secara indah dan positif.

Hah? Mati kok positif? Kok indah? Sudah gila

Eh lu bilang "gila" ke gue atau ke Sang Pemilik Kehidupan?

Eh bukan gitu, ya Allah, ampun-ampun. Gue kan ga ngerti

Jadi rindu kematian itu bisa lu ubah menjadi rindu pulang, kepada Dia Yang Maha Pengasih. Kenapa rindu? Ya karena Dia Yang Maha Pengasih merancang segala sesuatu dengan baik dan mulia. Rindu itu muncul dan kuat kalau kita merasakan kehidupan ini dengan indah dan positif. 

Ketetapan Tuhan itu-termasuk kematian- semuanya baik ya?

Iya, kematian kan ketetapan dan rencana Nya juga kan, kecuali ada yang iman kepercayaannya berbeda. 

Yang gue percaya, umur sudah ditetapkan, hanya kondisi tiap manusia saja-saat ia mati- yang membedakan.

Maksudnya?

Ya seseorang mati dalam kondisi kebaikan atau keburukan. Hatinya tenang damai atau menderita. Ia sudah menjadi manusia yang dewasa, matang, bermanfaat, bahagia atau sebaliknya.

Jadi pesan banyak dokter hidup sehat biar panjang umur itu gimana dong?

Selain dokter, banyak juga kan yang berpendapat demikian. Setiap orang yang percaya keberadaan Tuhan harus memilih keyakinan mana yang ia akan jalani. Ini tentang logika keimanan, seperti apa konsep Tuhan bagi orang tersebut.

Klik Hidup Kotor & Tak Sehat Amou Haji

Kalau ada yang mengatakan umur manusia itu bisa berubah sesuai usaha manusia, berarti ia harus menyelaraskan imannya, seperti apa konsep Tuhan baginya. Kenyataannya, banyak orang tetap meninggal walaupun ia sehat, masih muda, menjaga keselamatan diri dengan baik, rajin beribadah, rajin beramal dan seterusnya. Konsep berpikir seperti ini cenderung menjauhkan damai dan tenang, orang bisa was-was akan segala hal, akan kesehatan, keselamatan, keuangan, di rumah, di perjalanan, saat sakit, khawatir virus dan seterusnya.

Jadi kita ga perlu jaga kesehatan, keselamatan dan lain-lain dong, kan umur sudah ditetapkan?

Itu kan yang kita bahas tadi tentang kondisi saat mati. Ya kesehatan tetap perlu dijaga, tubuh adalah anugerah yang perlu dijaga. Manusia hidup kan untuk berusaha dalam kebaikan, termasuk menjaga tubuh juga. Panjang atau pendek umur sih lain soal.

Jadi gini, umur lu itu kan sudah ditetapkan, contohnya besok jam 7 pagi waktu lu sudah habis, lu bakal mati.. 

Eladalah, amit-amit jabang bayi (sambil ngetok meja).

Lha, kan bisa aja. Para nabi yang lu kagumi aja sudah ditetapkan kok umurnya, masak lu berbeda gitu? 

Tapi gue kan masih muda.

Eh jangan salah, banyak orang baik, sehat, tampak bahagia hidupnya, ternyata mati muda. Nah umur lu sudah ditetapkan, tinggal saat lu mati lu dalam kondisi apa? Lagi ngebut pakai motor norak lu itu-gangguin orang dengan knalpot bising lu-, atau lu lagi insap benerin motor lu jadi ramah bagi orang banyak. Lu lagi begadang, ngerokok dan minum cap tikus lu itu atau lu tidur, dengan niat kalau bangun mau bersih-bersih rumah sekalian oleh raga. Jadi lu mau pulang dalam keburukan atau kebaikan.

Klik 57 Artis Indonesia Yang Meninggal Muda

Jadi diskusi ini harusnya bikin gue tenang atau galau ya?

Lah lu yang punya perasaan, kok tanya gue. Tugas kita kan ya berusaha hidup sebaik-baiknya, sebenar-benarnya aja kan. Jadi, kalau lagi sakit, lagi dijalan, lagi covid, lagi banyak begal, polisi jahat, binatang buas, ga ada makanan dan seterusnya, ya semestinya berusaha tenang, kalau belum saatnya, ya bakal terus hidup, tapi kalau sudah saatnya, ya sudah, 'koit deh'. Setiap orang semestinya siap mati kapanpun.

Ga ada pilihan juga ya, siap ga siap ya, kalau sudah saatnya ya, the show must go on, terjadilah.

Yoai, takut neraka ga lu?

Entah. Tapi ketemu sang Maha Pengasih itu terbayang adem ya, lagian gue sudah berusaha hidup bener kok.

Aha ha, okeh dah. Konsep Tuhan, surga, neraka, mau itu dibilang pseudosains, yang penting hidup baik dalam kehidupan bersama (sementara hidup benar adalah relatif masing-masing pribadi), membangun perasaan baik, karena hidup ini teramat singkat.

Klik: Berbagai Kasus Meninggal Terekam Kamera

REFLEKSI

Tujuan artikel adalah mengarahkan agar pembaca mendapatkan perasaan terbaik dalam kehidupan sehari-hari, yang mewujud dalam karya baik dan manfaat.

Fakta:

  • Pada dasarnya, tidak ada seorangpun yang tahu pasti, sampai kapan ia hidup.

  • Meyakini keberadaan Tuhan yang tidak kasat mata, termasuk apa yang terjadi setelah kematian, adalah ranah privasi masing-masing orang, subyektif, bisa berbeda orang satu dengan lainnya

  • Banyak orang yang percaya keberadaan Tuhan Maha Pengasih, Maha Kuasa, Maha Perencana dan mengatakan bahwa hidup, mati, rejeki dan jodoh ada ditangan Tuhan, namun dalam perilaku sehari-sehari, mereka tidak mencerminkan hal itu, takut miskin, takut susah, takut mati.

Dari fakta diatas, ada banyak pilihan pola pikir, seperti:

  1. Hidup mati ditangan Tuhan dan umur sudah ditetapkan Nya dengan rancangan yang baik dan mulia > Manusia ikhlas, percaya dan hidup sebaik-baiknya.

  2. Hidup mati ditangan Tuhan, namun panjang umur manusia bisa berubah-ubah > Manusia terus berdoa memohon panjang umur.

  3. Manusia bisa memperpanjang umurnya, dengan usahanya > Manusia terus berusaha agar panjang umurnya.

  4. .......................(jawaban anda yang berbeda dari ketiga diatas)

Buat anda, mana pilihan yang lebih mendatangkan ketenangan dan kedamaian (dengan semangat, mensyukuri kehidupan, menjadi manusia yang berelasi baik, produktif dan bermanfaat)?

Carilah yang sesuai dan selaras dengan iman anda. Anda yang memilih, anda sendiri yang akan merasakan, karena hasilnya akan mempengaruhi pola pikir, perilaku dan perasaan anda sehari-hari.

Hidup begitu luar biasa, sehingga lakukan yang terbaik dalam hidup, cintailah kehidupan. Dan saat kita seseorang bisa merasakan kebesaran dan kemuliaan sang Pencipta kehidupan maka ada kerinduan yang mendalam untuk kembali pada Nya, merindukan kematian. Bukan ingin mati namun menyikapi mati sebagai ketetapan Nya yang baik dan indah, pulang pada Nya.

Artikel ini merupakan bagian dari (klik) Susunan Materi Belajar Kematian (rbebe.id). Kiranya bermanfaat. Terus semangat. Merdeka Maju Berdaya.

(Artikel ini kerjasama Rbebe dengan program  Best Feeling Achievement)

Masukan dan saran mohon sampaikan kepada kami. Terimakasih.

Yuk Wujudkan 100 Materi Belajar Bagi Masyarakat.