Stoikisme Adalah

Tim RBeBe - 12 July 2025

Sekitar abad ke-3 SM di Athena, Yunani. Zeno/Zenon dari Citium/Kition mengenalkan "stoikisme" yang namanya berasal dari tempat ia mengajar yaitu Stoa Poikile. 

Klik Stoikisme @Wikipedia

Setelah Zeno, ada beberapa tokoh Stoa lain seperti Chrisippus dari Soli, Cleanthes dari Assos, Seneca Muda, Cicero, Epictetus, dan Marcus Aurelius.

Stoikisme menekankan pentingnya kebajikan, akal sehat, pengendalian diri, penerimaan dan hidup selaras dengan alam, untuk mencapai ketenangan dan kebahagiaan dengan fokus pada hal-hal yang dapat dikendalikan di dalam diri, yaitu pikiran dan tindakan, serta mengakui, menerima dan melepaskan hal-hal yang berada di luar kendali. 

Dikotomi kendali: Memahami perbedaan antara apa yang bisa dikendalikan (pikiran, tindakan) dan apa yang tidak (peristiwa eksternal, pendapat orang lain). 

Penerimaan: Menerima segala sesuatu yang terjadi, baik suka maupun duka, dengan lapang dada. 

Hidup selaras dengan alam: Memahami dan menerima hukum alam serta hidup sesuai dengan kebijaksanaan alam. 

Kebajikan sebagai kebaikan tertinggi: Fokus pada pengembangan karakter, moralitas, dan kebijaksanaan dalam hidup. 

Mengendalikan emosi: Mengelola emosi dengan bijaksana dan tidak membiarkan emosi negatif menguasai diri. 

Menghargai momen saat ini: Fokus pada apa yang sedang terjadi saat ini, bukan terjebak dalam penyesalan masa lalu atau kekhawatiran masa depan. 

Amor fati: Mencintai takdir, menerima segala sesuatu yang telah ditakdirkan, dan menjadikannya bagian dari perjalanan hidup. 

Memento Mori: Ingat bahwa setiap orang akan mati. Ini bukan untuk membuat takut, melainkan untuk menghargai waktu dan hidup dengan bijak.

Artikel ini belum selesai.