Ego pada Lansia: Suatu Tantangan Besar

Tim RBeBe - 10 January 2026

Klik Berbagai Pemahaman Ego @rbebe.id, dimana pembahasan di artikel ini adalah ego sebagai citra diri.

Di fase usia lanjut, ketika tubuh, peran sosial dan berbagai hal menurun, ego sering mengalami guncangan paling keras.

Saat muda, ego sering “ditopang” oleh:

  • Jabatan (yang tinggi)

  • Kekuasaan (yang besar, bisa karena jabatan di kantor, masyarakat DLL)

  • Peran sosial (ketua atau pengurus organisasi, sering dimninta tolong DLL)

  • Produktivitas (penuh tenaga dan semangat, bisa aktif bekerja dan berkarya)

  • Pengaruh dan keputusan (mempunyai pengaruh yang bisa membuat keputusan penting dalan pekerjaan, organisasi, keluarga).

Ketika memasuki lansia, penopang itu satu per satu hilang, sementara rasa diri (sense of self) belum tentu siap berubah, belum tentu ikhlas menerima. Inilah sumber konflik batin.

Post Power Syndrome (Kehilangan Peran & Kendali)

Apa yang terjadi pada ego:

  • Terbiasa memberi perintah → kini harus mengikuti

  • Terbiasa dihormati → kini bisa diabaikan

  • Terbiasa memutuskan → kini mengikuti keputusan orang lain

Dampak ego:

  • Mudah tersinggung

  • Merasa tidak dihargai

  • Ingin mengatur walau tidak lagi relevan

  • Marah ketika pendapat tidak diikuti

Pergulatan batin, seperti: “Kalau aku tidak memegang kendali, siapa aku?”, "Kalau aku tidak punya kuasa, aku akan direndahkan".

Ego yang Bertahan lewat Dominasi Kecil

Karena kekuasaan besar hilang, ego mencari wilayah kecil untuk berkuasa:

Contohnya:

  • Mengatur rumah secara detail berlebihan

  • Menentukan hal sepele dengan keras, ngotot

  • Mengkritik pasangan, anak, atau menantu

  • Menuntut dilayani dengan alasan “sudah tua”

Ini bukan semata-mata keras kepala, tapi bisa karena ego yang berperan dan menuntut.

Luka Harga Diri: Merasa Tidak Berguna

Penurunan fisik sering dibaca ego sebagai: “Aku bisa dinilai tidak bernilai.”

Akibatnya:

  • Menolak bantuan (padahal butuh)

  • Atau sebaliknya: menuntut bantuan sebagai kompensasi ego

  • Mudah tersinggung jika dikoreksi

  • Sulit menerima kenyataan bahwa ada keterbatasan

Nostalgia Berlebihan sebagai Pertahanan Ego

Ciri khas:

  • Terus mengulang cerita kejayaan masa lalu

  • Membandingkan generasi sekarang dengan dulu

  • Menganggap cara lama selalu lebih benar

Ini adalah cara ego berkata: “Aku masih penting. Aku pernah hebat dan berarti.”

Bukan sekadar pamer, tapi permohonan untuk diakui.

Penolakan terhadap Ketergantungan

Bagi ego, bergantung = kalah.

Akibatnya:

  • Menolak alat bantu (tongkat, alat dengar)

  • Menolak nasihat medis

  • Menolak bantuan anak dengan alasan “masih bisa”

Padahal batinnya sering berkata: “Aku takut jika aku bergantung, aku tidak lagi dihormati.”

Ego vs Ketakutan Akan Kematian

Semakin dekat dengan akhir hidup, ego memunculkan ketakutan:

Dilupakan | hidup tidak meninggalkan jejak kebanggaan | masih ada tugas besar yang belum selesai DLL

Ini bisa muncul menjadi sikap:

  • Kemarahan

  • Kecemasan berlebihan

  • Sikap defensif

  • Keras dalam mempertahankan pendapat, ngotot

🪨 Bila ego MENGERAS

  • Keras kepala

  • Ingin selalu benar

  • Sensitif, mudah marah

  • Merasa semua orang salah

Biasanya lahir dari ketakutan dan luka.

🌾 Bila ego MELUNAK (Ego Dewasa)

  • Menerima keterbatasan

  • Tidak perlu selalu benar

  • Mau mendengar, mengakui

  • Mampu tertawa atas diri sendiri, nyaman

Ini bukan menyerah atau kalah, tapi kedewasaan ego.

Tantangan Ego Lansia

Perubahan: dari ego yang menguasai pikiran, menjadi ego yang menerima, bekerjasama dan merendah.

Dari 

  • “Aku berkuasa” menjadi “Aku bermakna”

  • "Aku harus dihargai" menjadi "Aku berharga apa adanya"

  • "Alu lebih tahu" menjadi "Aku menghargai pendapat orang lain"

  • "Aku tidak mau direndahkan" menjadi "Aku tidak terintimidasi oleh anggapan orang lain, setiap orang ada kekurangan dan kelebihan"

Bagaimana Menghadapi dan Menenangkan Ego Tinggi Lansia

Jika seseorang diabaikan, diperlakukan seperti anak kecil, diambil semua keputusannya

→ ego bisa melawan atau mengeras.

Namun jika:

  • Didengar → ego bisa melunak

  • Dihargai → ego bisa tidak mendominasi

  • Dilibatkan → ego bisa tidak mengontrol

  • Dihormati → ego bisa tidak menuntut

Berkomunikasi dengan hormat, menghargai yang bukan basa-basi:

  • “Kami butuh pendapat Bapak/Ibu.”

  • “Pengalaman Bapak/Ibu penting.”

  • “Boleh bantu kami memikirkan ini?”

  • “Izin mengusulkan.” DLL

Artikel ini bagian dari (klik) Susunan Materi Lanjut Usia @rbebe.id. Kiranya bermanfaat. Terus semangat. Merdeka Maju Berdaya.

(Tim RBeBe)

Kritik saran mohon sampaikan kepada kami. Terimakasih.

Mari bantu (klik) Wujudkan 100 Materi Belajar Bagi Masyarakat.