Cuplikan 1 Buku "Berilah Kami Makanan Pada Hari Ini Secukupnya" (rbebe.id)

Tim RBeBe - 16 October 2025

Sampul buku ini tidak dibuat untuk terlihat indah. Tidak ada warna-warna cerah, tidak ada ilustrasi yang menyenangkan mata. Yang ada hanyalah latar gelap, seperti tanah yang retak dan kering—tempat di mana banyak tubuh manusia rebah tanpa suara, karena lapar.

Setiap hari, jutaan manusia bangun tanpa kepastian apakah mereka akan makan atau tidak. Di sudut kota, di lorong pengungsian, di desa-desa yang tak pernah masuk siaran berita, ada anak-anak dan orang dewasa yang mati karena lapar, kekurangan gizi atau tidak adanya akses hidup layak, termasuk akses kesehatan.

Gelap pada sampul ini adalah cermin dunia yang suram, dunia lain yang jarang masuk layar: dunia anak yang tertidur bukan karena kenyang, tetapi karena perutnya menyerah dari menahan lapar.

Gemerlap kota, pesta, jamuan dan gaya hidup serta barang mewah yang tak pernah usai. Secara hukum, itu tidak salah. Namun ketika gaya hidup mewah berlangsung, sementara 19.700 orang manusia meninggal setiap hari karena kelaparan dan kekurangan gizi,-secara kemanusiaan dan hukum cinta kasih- tidakkah itu terasa sadis? Setiap 4 detik ada yang tidak bisa bertahan hidup karena tidak mendapatkan makanan dan dunia berjalan seperti biasa.

Tulisan di buku ini mencoba memberi peringatan bahwa sebelum bicara tentang harapan, kita harus berani mengakui kenyataan.

Dunia ini sedang meregang nyawa, dan sebagian sebabnya lahir dari ketidakpedulian manusia yang berkondisi kenyang.

Di wajah sampul yang gelap itu tertulis sebuah kalimat:
“Berilah Kami Makanan Pada Hari Ini Secukupnya.”

Kalimat itu adalah bagian dari suatu doa yang disuarakan oleh sosok yang sangat dikenal oleh beberapa agama. Kalimat yang sederhana, tetapi radikal. Doa itu tidak meminta: Penuhi kebutuhan-kebutuhan kami”, ataupun Kabulkan keinginan kami”. Di awal doa telah ada narasi yang percaya akan kehendak Nya yang kudus, suatu rancangan sempurna. Kemudian dilanjutkan dengan kalimat bersahaja itu: Berikanlah kami pada hari ini makanan kami yang secukupnya.

Makanan Satu Hari Untuk Satu Nafas Kehidupan.

Betapa rendah hati narasi itu, dan betapa tinggi, dalam dan mulia maknanya.
Di zaman ketika manusia mengejar lebih enak, lebih cepat, lebih keren, kalimat ini mengajarkan "cukup" untuk hidup.
Di era pamer kemakmuran, kalimat ini mengingatkan bahwa kebahagiaan yang sejati bukan terletak pada kelimpahan atau kesenangan yang egois, tetapi pada keadilan dan keberbagian.

Buku ini tidak ditulis untuk menuding dan menghakimi. Ia ditulis agar manusia menoleh dan tergugah hati.

Sebelum kita meminta berkat yang besar, kita belajar memahami arti kata sederhana: “cukup.”

Yang berpunya menoleh kepada mereka yang tidak memiliki ruang untuk bermimpi, karena energi mereka habis hanya untuk bertahan hidup hari ini. Dan kenyataannya, banyak yang tidak bisa bertahan.

Yang tak berpunya tetap menjaga iman kepercayaan dan berharap hari demi hari.

Kehidupan tidak runtuh karena kemiskinan—tetapi karena hati manusia yang mengeras di hadapan banyaknya manusia lapar.

Ini adalah cuplikan buku "Berilah Kami Makanan Pada Hari Ini Secukupnya" (informasi: klik Logo WA)

Kiranya bermanfaat. Terus semangat. Merdeka Maju Berdaya.

(Tim RBeBe)

Kritik saran mohon sampaikan kepada kami. Terimakasih.

Mari bantu (klik) Wujudkan 100 Materi Belajar Bagi Masyarakat.