Maknai Yang Sudah Berlalu

Tim RBB - 30 November 2022

(A Best Feeling Achievement)

Brader lu tahu ga video Indonesia Wonderland?

Widih itu keren banget, sumpah, indah banget ya, terlihat ajaibnya alam dan budaya Indonesia. Gue dulu penasaran dengan proses pembuatannya. Ternyata video itu dibiayai seorang anak muda namanya Doni Salmanan. 

Nah itu dia, sekarang dia dipenjara, kan itu uangnya dari kegiatan ilegal, penipuan. Gimana tuh, apa dihancurin aja videonya? DIhapus dari youtube? 

Mmm sebetulnya sih banyak kejadian  mirip seperti itu bro. Lu lihat bangunan-bangunan bersejarah yang kita kagumi, termasuk bangunan keagamaan, sebetulnya banyak yang prosesnya tidak baik juga lho. 

Serius? Bangunan keagamaan?

Iya, kita ga perlu membahas yang kontroversial, berbagai kisah dan pendapat macam-macam ya. Dari kemegahannya saja kita bisa menerka bagaimana proses pembangunannya, apa yang sudah dikorbankan. Mungkin tidak semua, tapi jelas kemegahan dan kemewahan yang dibangun bukan karena kebutuhan, tapi karena ego diri. Proses sulit yang dikerahkan seolah mengesampingkan rakyat kebanyakan yang butuh bantuan, kalau kita bicara kegiatan keagamaan, kan seharusnya 'membantu sesama' ditempatkan diatas bangunan fisik yang tidak perlu megah dan mewah.

Padahal bangunan itu indah dan megah-megah ya

Ya patut kita apresiasi keindahan dan kecerdasan arsitekturnya, termasuk segala hasil karya menakjubkan yang terkait dengan bangunan-bangunan itu. Namun tentu tidak serta merta kita menutup mata dengan proses pembangunan yang tidak patut dicontoh.

Dan sekarang proses seperti itu masih saja berlanjut ya?

Yap itu yang sangat memprihatinkan, banyak bangunan mementingkan ornamen, kemegahan dan keindahan yang mahal, sementara masyarakat disekitarnya banyak yang perlu uluran tangan, sangat bertolak belakang dengan pondasi iman yang kita percaya, empati, kepedulian, kasih sayang, kesederhanaan.

Tapi banyak orang bilang bangunan-bangunan megah dan mewah itu dibangun karena wujud kecintaan pada Tuhan atau memfasilitasi agar umat betah beribadah dan seterusnya.

Itulah pondasi yang menurut gue tidak tepat, dari awalnya saja demikian, sehingga iman yang dibangun cenderung tidak mengakar kuat dan berbuah lebat. Tidak ada perkataan Tuhan untuk membangun bangunan megah dan mewah, menghabiskan dana dan sumber daya untuk sesuatu kemegahan dan kemewahan bangunan. Ajaran-ajaran keagamaan senantiasa menyerukan kepedulian kepada sesama, memberikan hati, waktu bahkan seluruh diri untuk menolong, mengasihi. Begitu banyak orang perlu uluran tangan, semua orang yang merasa berTuhan seharusnya habis-habisan menolong, mengasihi, bukan membangun bangunan fisik, bahkan gue rasa, bila ada tempat ibadah yang mencerminkan kesederhanaan dan kebersahajaan itu seperti meletakkan pondasi iman yang akan mengakar kuat dan berbuah lebat.

Tapi memang susah ya, karena kecenderungan sifat manusia. Menghilangkan sikap dan ego seperti itu seperti tidak mungkin.

Yoi, tapi ya tidak ada yang mustahil kan bagi Tuhan, kita berbuat sesuai panggilan saja lah, menyuarakan ini walau tampak tidak didengar, Tuhan yang berkuasa kan.

Jadi semua yang sudah jadi dan terjadi ya kita maknai saja ya, ga perlu juga dihancurkan walau prosesnya ada yang tidak baik. Kita apresiasi yang baik, yang tidak baik kita jadikan pelajaran, minimal bagi diri sendiri sambil terus berbenah diri.

Sedaaap, bijak banget lu'

Baru tahu lu?

Iye baru tahu, tapi jujur gue ga percaya sih lu kayak gini, lu pas kemasukan malaikat aja kali?

Asemmm

*tulisan ini bisa diperdebatkan, silahkan beri masukan dan kritik kepada kami, untuk pemahaman yang lebih baik dan benar

(Tim Rbebe)