Covid Bahagia

Tim RBB - 30 November 2022

"Tuhan itu Maha Pengasih dan Maha Kuasa kan?"

"Iya dong"

"Kalau nyawa lu diambil hari ini gimana?"

"Jangan dong"

Kenyataannya, banyak dari kita belum cukup yakin dengan kepercayaan yang kita pegang. Memang tidak cukup 'hanya tahu' bahwa Tuhan itu Maha Pengasih dan Maha Kuasa, akan lebih baik saat kita 'sadar' bahwa tidak ada yang buruk untuk setiap ketetapan Nya, termasuk kematian. Bahkan seorang penjahat yang 'berpulang' (istilah lain untuk kematian)-pun kita harus akui itu adalah ketetapan Nya yang baik adanya. 

Rohaniwan Lebay

Suatu hari saya melihat video seorang rohaniwan yang mengumbar kisah 'selamat'nya dari virus covid-19. Hati ini terasa sebal mendengar narasinya. Dengan semangat ber-'matahari' (lebih dari ber'api-api') ia mengatakan Allah tidak meninggalkannya, bahwa Allah bersamanya dengan bukti bahwa ia mampu mengalahkan covid 19 karna Allah yang mencintai dan memberkati ia. Ia diselamatkan, ia disembuhkan oleh Allah sendiri. Ia bisa bertahan karena Allah, karena cinta umat sekalian. Lalu ia mengajak "Jangan meragukan Tuhan, Allah tidak akan meninggalkan kita. Cukup yang kena covid 19 saya sajalah, umat sekalian jangan sampai," Ia melanjutkan "Kalau sudah kena, apalagi masuk ICU, itu pergumulannya dua, dapat mukjizat dan disembuhkan atau kita kena covid dan akhirnya apa, koit.." 

Sang rohaniwan mungkin lupa menjelaskan secara berimbang, bahwa kematian bukanlah hal yang buruk. Mukjizat itu luas. Mukjizat bukan hanya saat seseorang selamat dan hidup. Saat seseorang 'koit' (bahasa beliau), mukjizat spesial bisa terjadi, dalam proses pemakaman atau kejadian paska pemakaman. Kenyataannya, banyak orang baik yang tetap koit, walaupun banyak umat sudah mendoakan. Semua itu tetap dalam cinta Allah. Tidak ada yang salah dengan koit (sekali lagi, ini bahasa rohaniwan tersebut). Saya rasa kita semua paham, bahwa yang dinilai bukan saat berpulang atau 'meninggal'nya, namun sikap selama hiduplah yang bisa dinilai benar atau salah.

Covid Bahagia

Semua kesusahan, ujian, cobaan atau bahkan konsekuensi akibat perbuatan, selalu dimaksudkan untuk kebaikan. Kita semua tentu ikut prihatin dan mendoakan untuk banyaknya kematian dan kesengsaraan akibat covid. Namun semua kesusahan dan kesedihan dalam keimanan kita seharusnya tetap disyukuri, karna kita percaya adanya Allah Yang Maha Baik. Hidup itu adil, saat dimaknai dengan kebermaknaan, ketenangan dan kedamaian hati.

Sedikit Cerita Pengalaman

Saat di ruang isolasi, pendampingan sangat diperlukan pasien. Fisik, mental dan psikis perlu dijaga dan dibangun. Walau beresiko dan tidak wajar, kebijakan RS Bhayangkara Brimob yang mengharuskan pasien lansia dijaga satu orang penunggu, menurut hemat saya sangat mendukung kesembuhan pasien, asalkan penunggu dipersiapkan dengan baik dan terjalin komunikasi serta kerjasama yang harmonis antara petugas medis, pasien dan penunggunya. 

Saat masih di ruang isolasi, saya bersama pasien lain dan penunggu pasien yang tergabung dalam group WA 'Persatuan Lantai 3 Cihuy' yang kami buat, sempat berencana ber'demo' untuk diberi kesempatan sesi berjemur matahari, layaknya merasakan sinar cinta Allah. Namun saya tidak tahu kelanjutan rencana itu karena saya keluar duluan (menyusul ibu yang sudah keluar sehari sebelumnya), kami sudah negatif. Saat saya menulis ini, tiga member group masih diruang isolasi. Semoga permintaan untuk bisa berjemur dapat terlaksana dan dikabulkan pihak RS. Sesi berjemur dapat menjadi solusi untuk ikut menghilangkan kebosanan, badan bergerak dan tentu sinar matahari di waktu yang tepat dapat membantu meningkatkan imun. Di RS Bhayangkara Brimob Cimanggis, jalur bertingkat yang bisa dipakai untuk mendorong troli makanan atau memindahkan ranjang RS, mendapat sinar langsung, saat mentari menuju ke barat, mungkin dapat dimanfaatkan pasien untuk berjemur. Semoga usulan ini bisa dibaca pejabat RS dan diupayakan. 

(Teman-teman seperjuangan, di lantai ruang isolasi covid RS Bhayangkara Brimob)

Spesial untuk teman sekamar yang masih di ruang isolasi: pegawai perusahaan asing yang paling disayang perawat (olok-olokan kami karena para perawat tampak lebih perhatian, karena memang satu-satunya di kamar yang masih pakai infus), yutuber preman jemur kolor (yang tetap eksis bikin konten yutub dengan mojok di lorong plus kejadian langka saat ia menjemur kolor bekas ia pakai yang telah dicuci), juga pemuda perawat burung mahal (saya baru tahu bahwa ada burung seharga mobil dan saat pandemi jual beli burung jenis ini tidak menurun, ck..ck..ck) semoga kita semua tetap semangat dan bahagia, seperti pengalaman bermakna yang telah kita lewati bersama. Ayo nyusul secepatnya keluar RS.

Klik Serba-Serbi Covid untuk film. lagu dan pengetahuan seputar pandemi covid-19

Nowan ARK